Kejujuran, kata yang sudah tidak asing lagi bagi telinga kita. Sejak di lingkungan keluarga tentunya kita sudah dikenalkan tentang kejujuran. Ditambah lagi pengetahuan yang didapat di sekolah. Sehingga tidak mungkin kita tidak tahu dengan yang namanya kejujuran. Tetapi sudahkah kita mengaplikasikan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan kita? Ataukan sekedar dijadikan pengetahuan saja?.
Berbicara tentang jujur, berbicara tentang nilai, pembiasaan, dan sikap yang tidak cukup diajarkan melalui pembelajaran di kelas saja yang berhenti pada satu pokok bahasan “kejujuran”. Tetapi, Perlu adanya tindak lanjut dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya berakhir di ruang ujian. Sangat ironis sekali ketika ada siswa yang mengerjakan soal tentang kejujuran tetapi dia mengerjakan dengan tidak jujur, dengan mencontek misalnya. Dimanakah letak kejujuran yang selama ini diajarkan?
Supaya hal tersebut tidak terjadi, terutama di lingkungan akademik, bagaimanakah kejujuran itu diajarkan kepada anak? Bagaimana supaya kejujuran itu bisa mendarah daging pada anak? Sehingga kejujuran yang ada dalam relung hati yang terdalam, menyatu dalam perilaku dan dalam hati kita, bukan hanya sekedar dinyanyikan, tetapi dilaksanakan dalam kehidupan. Yang selalu ada pada setiap anak baik di saat senang maupun di saat susah, baik dalam kedaan terdesak maupun lapang, tetap jujur walaupun tak ada yang melihat.
Mendidikkan kejujuran bukan hanya tanggung jawab guru di sekolah, tetapi juga tanggung jawab orang tua. Apa yang diajarkan di sekolah, jika tidak didukung oleh kondisi lingkungan keluarga maka hasilnya kurang maksimal. Sehingga perlu adanya kerjasama antara orang tua yang mendidik anak di rumah, dengan guru yang mendidik anak di sekolah, supaya muncul sinergi dalam mendidikkan kejujuran dan dapat diajarkan secara berkelanjutan.
Kunci utama dalam mendidikkan kejujuran adalah melalui keteladanan guru dan orang tua. Karena apa yang dilihat anak itu yang akan diikuti. Guru dan orang tua merupakan profil yang terdekat bagi anak. Jadi segala sesuatu yang dilakukan guru atau orang tua akan masuk dalam memori anak. Dan dengan mudahnya anak akan meniru apa yang diperbuat guru atau orang tua.
Selain memberi keteladanan, guru dan orang tua perlu menjalin komunikasi yang baik dengan anak, yaitu dengan membiarkan anak merasa nyaman di dekat guru atau orang tua. Ketika anak merasa nyaman di dekat kita, guru atau orang tua, maka kita bisa menanamkan dan mengarahkan anak kepada nilai-nilai kejujuran. Kita pun sebagai guru atau orang tua dapat melepas keperayaan dan tanggung jawab kepada mereka. Apabila anak sulit diajak komunikasi secara langsung, guru atau orang tua bisa memfasilitasi mereka dengan memberikan buku diary. Melalui buku diary tersebut anak bisa menuliskan apa yang ada dalam benaknya, apa yang selama ini disimpannya sendiri. Biarkan mereka menuliskan semua yang ada dalam pikirannya. Jangan membaca hasil tulisan mereka sebelum mereka mengizinkan, dan memberikan kepercayaan kepada guru atau orang tua untuk membacanya.
Selama ini apa yang menghambat anak untuk bersikap jujur? karena takut disalahkankah? atau takut membuat malu orang lain? atau karena gengsi?. Jika suatu ketika anak melakukan kesalahan kemudian anak dimarahi, maka kemungkinan jika anak melakukan kesalahan lagi, dia tidak akan mengakui kalau telah berbuat salah. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh guru atau orang tua? Apabila ada anak yang melakukan kesalahan, misalnya mencuri, kemudian tidak mengakuinya, hendaknya tidak langsung memarahi anak tersebut, tetapi meminta yang bersangkutan untuk mengakuinya. Jika anak sudah mengaku dengan jujur, hendaknya guru memberi reward positif atas kejujurannya dan memberi sanksi sebagai konsekuensi atas kesalahan yang dilakukannya.
Yang perlu diingat oleh guru atau orang tua sebelum mengajarkan kejujuran kepada anak adalah membiasakan diri sendiri untuk jujur, tidak hanya di depan anak tetapi dalam kesehariannya, baik jujur kepada diri sendiri maupun orang lain. Jangan sampai muncul pertanyaan, bagaimana anak bisa jujur kalau figur yang dicontoh saja tidak jujur?
Terlebih bagi kita (guru, calon guru, atau orang tua), mari kita biasakan bersikap jujur sebelum mengajarkan kejujuran kepada anak didik kita. Pastikan semua tugas yang kita kerjakan adalah buah pikiran kita, bukan hasil copy-paste-edit. Hargai hak kekayaan intelektual orang lain.
*) Terima kasih untuk Pak Pri atas motivasinya.